Skip to main content

follow us

Berikut kumpulan dalil dari Alquran dan as-Sunnah yang menunjukan bahwa setan dari bangsa jin dapat masuk ke tubuh anak Adam dan mampu menguasainya serta menggerakan angkota tubuhnya atau biasa disebut dengan kesurupan.

Sebenarnya, kejadian manusia dirasuki jin merupakan hal yang sudah lama terjadi namun masih ada saja yang mengingkari adanya kesurupan. Para pemakai akal contohnya, yang mereka tak mempercayai adanya hal-hal yang ghaib seperti Allah, kemudian malaikat, jin, dan selainnya yang menurut akal mereka tidak bisa dibayangkan dan tidak sampai akalnya. Lagian, sudah tahu akalnya terbatas masih saja diandalkan, bahkan begitu beraninya menolak dalil-dalil syar'i!?

Dalil al-Quran bahwa Kesurupan itu Nyata


Allah berfirman, bisa dilihat dalam surat al-Baqarah ayat 275,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

"Para pemakan riba tidak akan dapat berdiri kecuali dengan berdirinya orang yang sdang kerasupan setan dikarenakan (tekanan) penyakit gila." (al-Baqarah: 275)

Berkata Ibnu Jarir at-Thabari dalam menafsirkan ayat tersebut, "Maksud (يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ) ia setan merasuki akal para pemakan riba di dunia. Adapun (مِنَ الْمَسِّ) maksudnya hal tersebut disebabkan karena gila."

Berdasarkan hal di atas kemudian dikatakan, (قد مسّ الرجل وألق), yaitu "telah kerasukan lelaki itu dan ia gila."

Lihat firman Allah, al-A'raf ayat 201,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُون

"Sungguh orang-orang yang bertakwa apabila mereka dirasuki waswas oleh setan, mereka ingat kepada Allah." (al-A'raf: 201)

al-A'sya berkata dalam syair-nya,

"Ia menyongsong pagi setelah perjalanan malam yang panjang seakan-akan didatangi sekumpulan jin gila"

Ibnu Katsir berkata, "Yakni, tidaklah mereka itu bangun dari kubur-kuburnya pada hari kiamat nanti kecuali seakan-akan bangunnya orang kesurupan ketika dirasuki setan, di mana ia berdiri sempoyongan."

Imam al-Qurthubi mengatakan, "Pada ayat ini mengandung dalil yang menunjukan batalnya pengingkaran para pengingkar adanya kerasukan yang diakibatkan oleh jin, yang mana mereka mengklaimnya sebagai reaksi alam belaka, dan meyakini bahwa jin tidak bisa merasuki tubuh manusia serta tidak mampu menyebabkan kesurupan."

Antara Kesurupan dan Kegilaan


Di dalam Ruh al-Ma'ani, al-Alusi berkata ketika menafsirkan ayat ini, (مِنَ الْمَسِّ), maksudnya 'karena gila'. Jika kita berkata (مس الرجل), maka bisa diartikan, 'laki-laki itu gila'. Adapun (الْمسّ) sendiri artinya 'menyentuh dengan tangan'. Mengapa bisa dinamakan demikian? Karena setan terkadang masuk kepada manusia di saat cairan-cairan tubuh yang telah nyaris rusak (belum gila), maka kemudian ia pun rusak sehingga terjadilah kegilaan.

Hal tersebut bukan menafikan apa yang dikatakan oleh para dokter, yang menyatakan bahwa penyebabnya karena mendominannya cairan ampedu. Apa yang mereka sebutkan adalah sebab yang dekat, adapun yang diisyaratkan ayat ini merupakan sebab yang jauh dan juga tidak berlaku umum, bahkan, tidak pula saling bertabrakan (kontradiksi).

Di mana terkadang ada saja yang tertimpa kesurupan namun tidak diikuti dengan kegilaan, apabila cairan-cairan tubuhnya kuat. Demikian pula terkadang terjadi kegilaan namun tanpa dibarengi dengan kesurupan, apabila cairan-cairan tersebut rusak/lemah. Tentunya kerusakan tanpa campur tangan jin.

Perlu anda ketahui, kegilaan yang disebabkan akibat kesurupan bisa dibilang jarang atau sedikit. Wallahua'lam.

Dalil dari as-Sunnah Tentang Kerasupan Setan


Ada beberapa hadits dari Nabi Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa manusia itu bisa dimasuki oleh jin pada tubuhnya.

Pertama, dari sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sungguh setan itu berjalan mengalir pada diri manusia seperti mengalirnya darah. [1] .

Berkata al-Qadhi Iyadh berkaitan dengan hadits diatas, "... secara eksplisit memberitahukan bahwa Allah Azza wa Jalla memberikan kekuatan serta kemampuan untuk setan dalam berjalan pada tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah. [2] .

Kedua, telah terjadinya sebuah kejadian mengeluarkan jin dari tubuh manusia pada zaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada hadits,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ لَمَّا اسْتَعْمَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الطَّائِفِ جَعَلَ يَعْرِضُ لِي شَيْءٌ فِي صَلَاتِي حَتَّى مَا أَدْرِي مَا أُصَلِّي فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ رَحَلْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ابْنُ أَبِي الْعَاصِ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا جَاءَ بِكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَرَضَ لِي شَيْءٌ فِي صَلَوَاتِي حَتَّى مَا أَدْرِي مَا أُصَلِّي قَالَ ذَاكَ الشَّيْطَانُ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَجَلَسْتُ عَلَى صُدُورِ قَدَمَيَّ قَالَ فَضَرَبَ صَدْرِي بِيَدِهِ وَتَفَلَ فِي فَمِي وَقَالَ اخْرُجْ عَدُوَّ اللَّهِ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ الْحَقْ بِعَمَلِكَ قَالَ فَقَالَ عُثْمَانُ فَلَعَمْرِي مَا أَحْسِبُهُ خَالَطَنِي بَعْدُ

Dari Utsman bin Abil ‘Ash, ia berkata: 
     Tatkala Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikanku gubernur di negri Thaif, ada sesuatu yang menghampiriku pada shalatku, sampai aku tak mengetahui tentang shalatku. 
Tatkala aku mendapatkan hal tersebut, aku berangkat kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
     Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, "apakah itu Ibnu Abil Ash?"
     Aku menjawab, "benar, wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam."  
     Beliau bertanya, "Apa sebabnya kau kemari?
     Aku menjawab, "Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuatu telah mendatangiku pada shalat-shalatku, sampai aku tak mengetahui shalatku." 
     Beliau berkata, "itu adalah setan, mendekatlah!
     Kemudian aku mendekatinya, maka duduklah aku diatas ujung telapak kakiku. Lalu beliau memukul dadaku dengan tangannya serta meludahi mulutku, sembari berkata, "Keluar wahai musuh Allah!
     Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. Kemudia bersabda, "Kembalilah kepada pekerjaanmu!"
     Kemudian Utsman mengatakan, "Sungguh, sepertinya setan itu tidak lagi menggangguku setelah itu".

[HR Ibnu Majah, no. 3548, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]. 

Ketiga, Pada hadits yang disebutkan dari Abul Aswad as-Sulami, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya menyebutkan, 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرِيقِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ…

"Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ketimpa benda keras, dan aku berlindung kepada-Mu dari kematian karena terjatuh, dan aku berlindung kepada-mu dari ketenggelaman dan kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari merasuknya setan kepadaku ketika mendekati kematian..." [3]

Al-Munawi menjelaskan,

“…merasuknya setan kepadaku ketika mendekati kematian…”: berupa gangguan yang dapat menggelincirkan kaki, merasuki akal serta pemikiran. Kadang pula setan menguasai seseorang tatkala hendak wafat, sehingga berhasil menyesatkan dan menghalanginya untuk bertaubat..." (Faidhul Qadir, 2:148)

Berkata Imam Ibnu Baththah rahimahullah dalam kitabnya yang terkenal, al-Ibânah,

الْبَابُ الْخَامِسُ بَابُ الإِيْمَانُ بِأَنَّ الشَّيْطَانَ مَخْلُوْقٌ مُسَلَّطٌ عَلَى بَنِي آدَمَ يَجْرِيْ مِنْهُمْ مَجْرَى الدَّمَ إِلاَّ مَنْ عَصَمَهُ اللهُ مِنْهُ . وَمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ فَهُوَ مِنَ الْفِرَقِ الْهَالِكَةِ

"Bab kelima belas, merupakan bab mengimani bahwasannya setan itu diciptakan untuk mempengaruhi anak Adam. Dia berada pada tubuh anak adam, mengalir sepanjang aliran darah, kecuali orang-orang yang Allah jaga dari gangguan tersebut. Dan barangsiapa ingkar terhadapnya maka dia termasuk kelompok yang celaka."

Kalau anda ditanya, bagaimana jin bisa masuk ke tubuh manusia? Bagaimana mungkin sebuah tubuh bisa masuk ketubuh selainnya? Simpel saja jawabnya: Ya, sangat mungkin! Dan hal itu sangat masuk akal, buktinya pun bisa kita temukan di alam nyata. Misalnya air yang mengalir dalam tumbuhan dan batang, zat makanan yang mengalir tersebar di dalam tubuh manusia, atau muatan listrik yang berjalan melalui kabel. Seperti itulah setan berjalan dalam tubuh sesorang sebagaimana mengalirnya darah.

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, "Aku berkata kepada ayahku, "Ada sekelompok orang yang beranggapan kalau jin tidaklah masuk kedalam jasad orang yang kesurupan dari golongan manusia!" Beliaupun menimpali, "Wahai anakku, mereka itu telah berbohong, buktinya jin itu berbicara lewat lisan orang tersebut."

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah memberikan komentar atas percakapan Ibnu Ahmad dan Imam Ahmad tersebut,

"Apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad merupakan masalah yang masyhur di masyarakat. Individu yang kerasupan berbicara dengan bahasa yang maknanya tidak dipahami. Kadang ia dipukul dengan keras yang jika pukulan tadi diarahkan ke onta pasti menimbulkan sakit. Meski begitu, ia tak merasakan pukulan keras tersebut dan tak sadar dengan ucapan yang disampaikannya."

Kemudian beliau mempertegas,

"Siapa saja yang menyaksikan peristiwa kerasukan akan meyakini bahwa yang berbicara adalah menggunakan lidah manusia namun yang menggerakan badannya adalah makhluk selain manusia. (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).

Bersepakatnya Ulama Jin Dapat Merasuki Manusia


Telah bersepakat para ulama islam tentang benarnya kejadian jin yang dapat menguasai tubuh sesorang.

Hal tersebut dapat anda lihat melalui fatwa yang dikeluarkan oleh Ibnu Taimiyyah Rahimahullah,

وليس في أئمة المسلمين من ينكر دخول الجن بدن المصروع وغيره، ومن أنكر ذلك وادعى أن الشرع يُكذب ذلك فقد كذب على الشرع، وليس في الأدلة الشرعية ما ينفي ذلك

Para ulama islam tidak ada yang mengingkari masuknya jin kedalam tubuh dan selainnya. Dan siapapun yang mengingkari hal tersebut dan beranggapan bahwa syariat mendustakan bahwa jin dapat memsuki tubuh, sungguh ia telah berbohong atas nama syariah. Karena tidak ada satu dalil syariah pun yang mengingkari kemampuan jin untuk bisa memasuki tubuh.

-------------------
[1]. درجة الحديث: صحيح
الراوي: صفية بنت حيي زوج النبي صلى الله عليه وسلم
المحدث: البخاري في صحيح البخاري - 2038
[2]. Lihat Syarh an-Nawawi 14/157.
[3]. درجة الحديث: صحيح
الراوي: أبو الأسود السلمي
المحدث: الألباني في صحيح النسائي - 5548

Selesai disusun, Cirebon 1/23/2018, Kamis siang

Oleh: Harits Bassam as-Said

Artikel Wikidakwah.com

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar