Skip to main content

follow us

Bismillah, alhamdulillah was sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Bagaimana hukum SPP, bayar uang gedung, biaya UTS/UAS dan biaya-biaya lainnya yang mesti dikeluarkan demi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar? Berikut kami sajikan artikel tentang hukum biaya yang dikeluarkan dan diterima untuk pendidikan yang sebelumnya tersusun dalam format PDF dengan sedikit perubahan.



Kami merasa buku elektronik yang disusun oleh Muhammad Izzuddin Akbar ini sangat bermanfaat terlebih untuk kalangan guru dan civitas yang terjun dalam dunia pendidikan. Tentunya agar kita semua bisa terhindar dari memakan sesuatu yang haram dan apa yang kita minta dapat dikabulkan dengan cepat oleh Allah Ta'ala.


 *****

Pengisi : DR. Erwandi Tarmidzi, MA
Hari/Tanggal : Sabtu, 20 Januari 2018
Waktu : 09.00 – 11.00
Tempat : Masjid Islamic Center Bekasi
Tema : Hukum Jual Beli Dalam Dunia Pendidikan
Penyusun : Muhammad Izzuddin Akbar

Prolog


Menjawab keluhan sebagian orangtua tentang biaya pendidikan sekolah sunnah di Indonesia yang mahal. Maka asalnya pendidikan itu adalah mahal, karena yang dihasilkan adalah manusia. Coba bandingkan dengan pekerjaan lain yang menghasilkan barang. Seorang arsitek, ahli mesin, bisa digaji sampai berkali lipat dari UMR, tapi seorang guru tidak sampai UMR. Maka seharusnya terbalik, karena menghasilkan manusia lebih berharga daripada menghasilkan barang.

Lantas mengapa ada pendidikan yang gratis? Karena ada yang menanggung. Contoh di Saudi, 40% anggaran Negara adalah untuk pendidikan. Tapi sekolah swasta disana (yang tidak dibantu pemerintah) tetap bayar mahal.

Memang diantara para mustahiq zakat adalah penuntut ilmu, tapi tidak semua. Kriterianya adalah dia haruslah memiliki dzakaa’ (kecerdasan). Karena menuntut ilmu ada yang fardhu ain, ada juga yang fardhu kifayah. Jadi seandainya ada anak yang kurang cerdas, maka dia cukup diajari dengan hal-hal yang mendasar saja, lantas selanjutnya tidak perlu melanjutkan pendidikannya kalau memang tidak mampu.

Hasil penelitian seorang psikolog: pendidikan tidak berpengaruh pada IQ seseorang kecuali sekitar 5%. 2

B. Akad-Akad Dalam Dunia Pendidikan  


1. Hukum Uang Gedung 


  • a. Jika yang dimaksud adalah membeli gedung, maka berarti seorang santri punya saham yang berlaku sampai kapanpun. 
  • b. Jika yang dimaksud adalah sewa gedung, akadnya harus jelas untuk berapa tahun. Dan juga tergantung dari jumlah pendaftar (dibagi-bagi, semakin banyak maka semakin murah), umur gedung, dll. Harus jelas cara menghitungnya, dan tidak hanya ditanggung oleh santri baru. 
  • c. Maka yang berlaku di kebanyakan pesantren selama ini adalah haram, karena terdapat gharar. Untuk apa uang tersebut, padahal nanti setiap bulan harus bayar SPP? 
  • d. Solusi: seperti di Saudi, bayar satu kali dan sudah mencakup semuanya (misal 4500 Real sampai lulus dan tidak ada biaya apapun lagi setelah itu). 
  • e. Tambahan: jika akadnya sewa gedung untuk sekian tahun, lantas murid keluar sebelum selesai waktunya, maka tidak dikembalikan uangnya. 


2. Hukum Uang SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) 


  • a. Seharusnya kalau sumbangan, berarti sesuai kemampuan dan keridhoan. Maka lebih baik diganti istilahnya dengan sewa belajar mengajar. 
  • b. Ini boleh. Bahkan kalau ada yang tidak bayar padahal mampu membayar, boleh untuk dilarang mengikuti pelajaran karena itu adalah sebuah kezholiman. Dan membiarkan kezholiman juga merupakan kezholiman yang lain. 


3. Biaya UTS dan UKK 


  • a. Namanya sewa ujian. Pertanyaannya: kenapa ketika ada seperti ini, ada tambahan biaya, tetapi ketika libur kok santri tetap disuruh bayar? 
  • b. Ini haram. Karena tidak jelas. 


4. Biaya Bimbingan Pelajaran Tambahan 


  • a. Kalau saling sepakat, selama tidak diwajibkan pada semua santri, hanya yang mau saja, maka boleh. 


5. Iuran Rihlah ( Biaya Jalan-jalan atau travelling atau study tour)


  • a. Jika prinsipnya adalah; ikut ataupun tidak ikut tetap wajib bayar, maka ini zholim. 
  • b. Asalnya mubah, jika tidak diwajibkan pada semua santri. 
  • c. Tambahan: sebaiknya orangtua lebih memperhatikan masalah ini. Ikut saat anak gadisnya rihlah sebagai mahram. Apalagi jika dalam jarak qashar shalat dan anak gadisnya sudah baligh. 


6. Penggunaan Dana BOS 


  • a. Dalam hibah, dibolehkan adanya persyaratan, namun tidak mengikat. Misalnya jika memberi sebuah barang pada seseorang dengan syarat untuk dipakai, tapi orang itu menjualnya, maka uangnya tetap halal. 
  • b. Tapi jika diminta laporan, maka laporannya harus jujur. Keharamannya adalah pada kebohongan laporan saja. Pada asalnya boleh. 


7. Subsidi Pemerintah Untuk Guru 


  • a. Jika disetujui oleh atasan (pihak pemberi gaji), maka tidak masalah. 
  • b. Jika ingin pendidikan yang ideal, maka yang menggaji guru adalah baitul maal, yang sudah berjalan sejak jaman Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu, sehingga santri hanya memikirkan biaya hidupnya saja, seperti di Mauritania. 


Catatan: banyak sekali pembahasan yang belum sempat terbahas karena keterbatasan waktu. Mudah-mudahan dilain kesempatan, akan ada lanjutan dari kajian ini, sehingga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan berkaitan dengan dunia pendidikan. Kita doakan juga semoga ustadz DR. Erwandi Tarmidzi, MA hafizhahullaah, senantiasa dalam perlindungan Allah azza wa jalla, serta senantiasa diberi kesehatan dan kelapangan waktu untuk kebaikan ummat islam. Aamiin.

Bagi yang ingin membaca versi PDF-nya silakan diunduh disini.

Untuk tambahan dari kami ditandai dengan tulisan berwarna oranye

You Might Also Like:

Oldest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar