Skip to main content

follow us

Bismillah, alhamdulillah was sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah.

Hukum asal seluruh jenis bejana itu mubah. Kita dibolehkan untuk memakainya sesuka hati tanpa ada larangan padanya.

Bejana di sini maksudnya tidak hanya bejana yang kita kenal seperti ember saja. Namun apapun yang bisa menjadi tempat disimpannya air, makanan, atau selainnya maka itu disebut bejana. Baik itu berupa piring, ember, baskom, cangkir, dan yang semacamnya.

Bejana dari Emas dan Perak


Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, bahwa seluruh bejana hukum asalnya boleh (mubah) digunakan dan statusnya suci. Hanya saja untuk bejana yang terbuat dari emas atau perak maka ada pengecualian dari hukum asal tersebut.

Bejana bentuk apapun yang mengandung unsur emas ataupun perak, entah itu sebagai material inti, hiasan, atau lapisan pelindung (cat), dan selainnya maka hukumnya adalah haram. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim menggunakannya, baik untuk makan atau minum.

Dalil pengahramannya datang dari hadits sebagaimana perkataan Rasulullah ﷺ,

 لا تشربوا في آنيةِ الذهبِ والفضةِ ولا تأكلوا في صحافِهما فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرةِ

"Janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak, serta janganlah makan pada nampan yang terbuat dari keduanya. Karena sesungguhnya yang demikian itu buat mereka (orang kafir) di dunia, adapun buat kalian (orang islam) maka nanti di akhirat". (HR. Bukhari)

Di kesempatan lain, Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

 الَّذي يشرَبُ في آنيةِ الفضَّةِ إنَّما يُجَرجِرُ في بطنِه نارَ جَهنَّمَ.
   الصفحة أو الرقم: 5634

"Siapa saja yang meminum dari bejana (gelas) yang terbuat dari perak, maka sesungguhnya dia menarik perutnya sendiri ke neraka jahanam." (HR. Bukhari no. 5634).

Larangan ini mencakup bejana apa saja yang didalamnya ada unsur emas dan perak. Baik bejana yang terbuat dari emas murni ataupun bejana yang disepuh emas. Maka yang demikan ini hukumnya sama-sama haram.

Jadi, mau emas murni, mau disepuh, mau ada manik-manik dari emas, atau apa saja yang jelas-jelas bejana tersebut mengandung emas dan perak, hukumnya adalah haram untuk digunakan.

Bolehnya Menambal Bejana dengan Perak


Akan tetapi hukum tersebut dikecualikan untuk unsur perak yang sedikit karena adanya suatu keperluan. Seperti menambal mangkuk yang bolong dengan sedikit polesan perak. Atau menambal gelas yang retak dengan sedikit perak. Hal ini karena Nabi ﷺ pernah melakukannya pada bejana beliau yang retak. Sebagaimana yang disebutkan pada hadits Anas bin Malik,

أن قدح النبي صلى الله عليه وسلم انكسر فاتخذ مكان الشعب سلسلة من فضة

"Bahwasanya bejananya Nabi ﷺ retak. Maka beliau menambal bagian yang retak tadi dengan tambalan perak." (HR. Bukhari, no. 3109)

Wadah Emas dan Perak Haram Buat Siapa Saja?


Pengharaman diatas mencakup laki-laki dan wanita. Jadi, baik wanita maupun pria dilarang untuk menggunakan bejana dari perak dan emas untuk dipakai sebagai alat minum maupun makan sebagaimana yang tertulis pada hadits.

Namun bagi wanita diperbolehkan menjadikan emas dan perak sebagai perhiasan dihadapan suaminya atau yang mahram baginya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَاۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (An-Nur 24:31)

Demikian hukum seputar bejana dari emas dan perak menurut islam. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat untuk akhirat maupun dunia kita.

---
Referensi:

  • Al-Mulakhos al-Fiqhy. Tahun 1430 H. Shalih al-Fauzan. Penerbit Dar A'lam As-Sunnah. 
  • Manhajus Salikin. Abdurrahman As-Sa'di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 
  • Aplikasi Android Al-Mausu'ah Al-Haditsiah. Developer www.dorar.net
  • https://books.google.co.id/books?id=7IlFCwAAQBAJ

Disusun oleh: Harits bin Said Al-Mawi

Di Kampus STDI Imam Syafi'i Jember, 30/1/2019 (23 Jumadil Awal 1440)


You Might Also Like:

Newest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar