Skip to main content

follow us

Bismillah, Alhamdulillah was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.

Sebagian besar kaum muslimin mengetahui bahwa shalat lima waktu merupakan kewajiban seorang muslim baligh dan berakal yang tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,



وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ 

"Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah kalian bersama orang-orang yang rukuk." (Al-Baqarah 2:43)

Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk menjaga shalat lima waktu dan memperhatikan hal-hal yang membuat shalatnya itu sempurna sehingga bisa dikatakan sah, dan terlepas dari kewajiban yang berada dipundaknya, serta bisa lebih diharapkan shalatnya diterima oleh Allah sehingga mendapat ganjaran penuh.

Wajib Bersuci Hadats Junub Sebelum Sholat

Shalat juga merupakan sebaik-baik amalan yang harus mendapat perhatian lebih di sisi seorang muslim. Rasulullah ﷺ bersabda,

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Beristiqamahlah dan kalian tidak akan bisa istiqamah secara sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Dan tidaklah seorang yang selalu menjaga wudhunya melainkan dia seorang mukmin." (HR. Ad-Darimi, no. 655).

Jadi selain shalat itu wajib, juga merupakan amalan yang terbaik bagi seorang muslim.

Namun, jika shalat dilakukan tanpa bersuci terlebih dahulu, maka tidak berguna sama sekali shalatnya tersebut. Bahkan bisa menyebabkan pelakunya berdosa jika ia melakukannya dengan sengaja.

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita hidayah dan juga keistiqamahan diatas agamanya yang lurus ini.

Dalil Wajibnya Bersuci


Adapun landasan hukum diwajibkannya bersuci sebelum menegakkan shalat datang dari al-Quran, hadits, dan juga konsensus ulama (ijma').

Dalil wajibnya bersuci adalah sebagaimana yang Allah firmankan,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah." (Al-Ma'idah 5:6)

Ketahuilah, Saudaraku, diantara yang membuat shalat kita ini dianggap sah dan sempurna adalah sucinya diri kita dari hadats dan najis sebelum berdiri melaksanakan shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, dan ini sebagai dalil wajibnya bersuci yang datang dari hadits,

لا تقبل صلاة بغير طهور

"Tidak diterima shalat seseorang tanpa bersuci." (HR. Muslim, no. 224).

Rosulullah ﷺ juga bersabda,

انّما امرت بالوضوء اذا قمت الى الصلاة

"Sungguh aku ini diperintahkan untuk berwudhu apabila ingin mendirikan shalat." (HR. Abu Dawud, no. 3760)

Sedangkan ijma’ para ulama, telah menyebutkan Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid, bahwa tidak disebutkan adanya perselisihan diantara kaum muslimin satupun akan wajibnya bersuci. [1]

Pengertian Hadats dan Najis


Hadats

Adalah suatu keadaan pada seseorang yang menghalangi dia untuk melakukan sebagian ibadah yang disyaratkan dilakukan dalam keadaan suci seperti ibadah shalat.

Hadats terbagi menjadi dua:

  1. Hadats Akbar. Yaitu yang mewajibkan seseorang untuk mandi besar. Misalnya karena keluar air mani. 
  2. Hadats Asghar, atau hadats kecil. Keadaan yang mengharuskan seseorang untuk berwudhu. Misalnya sehabis buang angin. 

Najis 

Adalah sesuatu yang dianggap kotor oleh orang yang memiliki fitrah selamat, dan mereka akan selalu menjauhinya serta berusaha membersihkan apa bila pakaiannya terkena sesuatu yang najis tersebut.

Contoh najis adalah kotoran manusia, dan kencing manusia.

Namun tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia berakal adalah najis. Contohnya lumpur sawah, dan yang semacamnya.

Apa Itu Bersuci atau Thaharah?


Definisi bersuci menurut syari’at adalah terangkatnya hadats dan hilangnya najis.

Terangkatnya status hadats besar bagi seseorang bisa dengan cara menggunakan air untuk menyiram seluruh bagian tubuhnya disertai nengan niat menghilangkan hadats tersebut. Cara ini biasa kita sebut dengan mandi besar, mandi junub, atau mandi wajib.

Untuk hadats kecil sepeti halnya seseorang mengeluarkankentut dan ingin mendirikan shalat, maka hendaknya ia berwudhu menggunakan air terlebih dahulu sebagaimana wudhu yang telah nabi ajarkan. Sama halnya dengan mandi wajib, wudhu juga dilakukan disertai dengan niat.

Lalu bagaimana ketika kita ingin bersuci tidak mendapatkan air? Atau karena sakit sehingga tidak sanggup memakai air untuk bersuci?

Maka jika keadaannya demikian, kita bisa menggunakan tanah untuk bersuci dengan tata cara yang khusus sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Yang demikian ini dikenal dengan istilah tayamum. Yaitu bersuci menggunakan tanah, atau debu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bersuci itu ada dua macam:

  1. Bersuci menggunakan air
  2. Bersuci menggunakan debu atau tanah


Bersuci Menggunakan Air


Pada asalnya bersuci itu menggunakan air. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً طَهُورًا

"Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih." (QS. Al-Furqan: 48).

Air yang sangat bersih, yaitu air yang dapat dipakai untuk bersuci, atau air yang dapat menyucikan.[2]

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ 

dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu. (QS. Al-Anfal, 8:11).

Setiap air yang turun dari langit, atau yang mengalir dari bumi itulah air yang suci dan bisa mensucikan. Air ini bisa di istilahkan dengan 'Air Thahur'.

Air ini tetap disebut dengan air mutlak, meskipun tercampur dengan sesuatu yang suci seperti sedikit tanah atau dicampurkan remahan daun bidara. Selama tidak tercampur dengan sesuatu yang najis, maka statusnya tetap, yaitu suci dan bisa mensucikan selainnya. Rasulullah bersabda,

إن الماء طهور لا ينجسه شيء

"Sesungguhnya air itu thahur (suci dan mensucikan), tidak menjadikannya najis sesuatu apapun."(HR. Abu Daud, no. 67).

Adapun jika air tersebut kemasukan sesuatu yang najis maka terjadi dua kemungkinan:
1. Tetap suci, dengan syarat airnya lebih dari dua qullah dan tidak berubah salah satu dari sifat air tersebut.
2. Jika kurang dari dua qullah maka berubah statusnya menjadi tidak suci lagi meskipun tidak berubah sifatnya.



 إذا بلغ الماءُ قُلَّتينِ لم ينجِّسْه شيءٌ

"Apabila air sebanyak dua qullah, maka tidak ada yang bisa membuatnya najis." 

Menurut konsensus ulama, apabila sesuatu najis dapat merubah sifat air seperti baunya, atau warnanya, maka air tersebut hukumnya berubah menjadi najis.

Air yang sebanyak dua qullah, menurut sebagian ulama, yaitu sekitar 191 liter air, atau kalau sekarang setara dengan 10 galon air.

Wallahua'lam bish showab.

Bersuci dengan Tanah / Tayamum


Bersuci dengan tanah atau debu ini merupakan jenis kedua dalam bersuci sebagai pengganti dari air dengan tata cara tersendiri yang telah diajarkan Rasulullah kepada kita.

Bolehnya bertayamum ini apabila:

  1. Tidak adanya air. Baik saat bermukim, maupun saat safar, dan ia sudah berusaha untuk mencarinya namun tidak mendapatkannya.
  2. Ada air, hanya saja air tersebut jika dipakai untuk bersuci maka akan membahayakan bagi dirinya sendiri maupun selainnya. Semisal ia akan kehausan sehingga mengancam jiwanya
  3. Jika ditakutkan akan terkena bahaya apabila badannya bersentuhan dengan air, baik karena sedang sakit, atau ditakutkan jika terkena air akan menghambat penyembuhan penyakit yang sedang dideritanya.
  4. Tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan air karena sebab sakit sehingga ia tidak bisa banyak menggerakkan tubuhnya, dan tidak ada yang membantunya untuk berwudhu, sedangkan ditakutkan waktu shalatnya terlampau habis maka hendaknya ia tayamum. 
  5. Karena takut kedinginan yang sangat apabila menggunakan air untuk berwudhu, dan ia tidak menemukan apa yang bisa membuat air tersebut hangat semisal kompor, maka tayamum, kemudian dirikan shalat.[3]


Dalil tayamum ini, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam kitabnya,

فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّموا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur." (Al-Maidah:56)

InsyaAllah untuk bab tayamum akan ada pembahasannya tersendiri agar lebih jelas dan mudah dipahami.

Semoga bermanfaat! 

Referensi:


  • Al-Mulakhos al-Fiqhy. Tahun 1430 H. Shalih al-Fauzan. Penerbit Dar A'lam As-Sunnah. 
  • Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid.  Tahun 2007 M. Ibnu Rusyd. Penerbit Bait Al-Afkar Ad-Dauliah. 
  • Manhajus Salikin. Abdurrahman As-Sa'di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 
  • Aplikasi Android Al-Mausu'ah Al-Haditsiah. Developer www.dorar.net
  • http://i-s-way.com/play.php?catsmktba=100


-----
[1] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd, 1/11.
[2] Tafsir Jalalayn, Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin ar-Rumi, 234.
[3] Al -Mulakhos al-Fiqhy, Shalih bin Fauzan, 35.

___
Disusun oleh: Harits bin Said Al-Mawi

Di Kampus STDI Imam Syafi'i Jember, 19/1/2019 (12 Jumadil Awal 1440)


















You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar